Klik link sumber

Siang itu, di jantung Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, aroma menyengat yang biasanya langsung menusuk hidung terasa berbeda. Bukan hilang sepenuhnya, tetapi menurun drastis, cukup untuk membuat sejumlah petugas terheran-heran.

Di hadapan mereka, Gerakan Relawan Saka melakukan sesuatu yang tak lazim: mencelupkan tangan ke air lindi berwarna gelap, lalu mengajaknya dicium bersama-sama. Aksi itu dipimpin Muhammad Ansar, tokoh penggerak Relawan Gerakan Saka.

Dengan tenang, Ansar menyemprotkan cairan Bio Saka—hasil temuannya—ke genangan air lindi, cairan beracun hasil peresapan tumpukan sampah yang selama ini dikenal sebagai sumber bau amis menyengat dan ancaman kesehatan. “Silakan dicium,” katanya, di TPST Bantar Gebang, Kamis (26/2/2026).

Dia lalu mengundang polisi, babinsa, dan pengawas TPST serta masyarakat sekitar untuk membuktikan langsung. Reaksi pertama adalah ragu. Air lindi identik dengan bau yang membuat orang refleks menutup hidung.

Namun beberapa detik setelah semprotan Bio Saka, ekspresi berubah. Kaget, lalu tersenyum tipis. Tak ada serbuan bau seperti yang mereka bayangkan. Bahkan ketika disentuh, lengket yang biasa terasa pun nyaris hilang.

Bagi Ansar, demonstrasi ini bukan aksi sesaat. Ia berkisah tentang pengalaman sebelumnya di TPA 03 Cipeucang, Tangerang Selatan, saat longsor dan sampah menumpuk tak terangkut. “Setelah kami intervensi, komplain warga soal bau justru hilang,” ujarnya.

Sejak itu, kata Ansar, TPA 03 di Tangerang Selatan berjalan tanpa keluhan bau yang dulu rutin terdengar. Ia menegaskan, perhatian kini tertuju pada Bantar Gebang—lokasi yang sudah lama menjadi sorotan nasional dalam persoalan persampahan.

“Insya Allah, ini jadi satu perhatian serius. Kalau nanti pemerintah bilang iya, melalui Kementerian Lingkungan Hidup, kita lakukan hal serupa seperti di Cipeucang,” katanya.

Gerakan yang dibawanya mengusung tajuk “Mewujudkan Udara Bersih, Indonesia Bebas dari Bau Sampah.” Menurut Ansar, ini adalah pengabdian, bukan ladang keuntungan. Relawan datang atas kepedulian sendiri, dari Yogyakarta hingga berbagai kabupaten di Jawa Tengah, tanpa rekomendasi Pemerintah.

Teknologi Bio Saka, klaimnya, berbasis gelombang, bukan material, sehingga kebutuhan anggaran dapat diminimalkan. Ia bahkan menyebut satu botol N level 1 mampu bertahan hingga 25 tahun. Untuk skala Bantar Gebang, 5 mililiter dinilai cukup menopang 3–4 tahun ke depan.

“Kalau ada sekitar 200 kabupaten/kota dengan TPA besar, saya hanya butuh 200 botol untuk lima tahun aman,” ucapnya optimistis.

Di sisi lapangan, testimoni datang dari Kasim, Kepala Pos Polisi Sumur Batu, Bantar Gebang. Ia mengaku telah lama hidup berdampingan dengan lingkungan TPST.

“Air lindi itu jangankan dipegang,” katanya, sembari mengenang bau yang biasanya membuat orang enggan mendekat.

Namun setelah disemprot Bio Saka, ia memegang air lindi tanpa ragu. “Sampai sekarang belum saya cuci, dan tidak ada bau,” ujarnya, masih terdengar tak percaya.

Menurut Kasim, setelah penyemprotan menggunakan drone, bau berkurang signifikan. Memang masih ada sumber yang tak terjangkau karena arah angin dan hambatan area, namun penurunan mencapai 60–70 persen terjadi dalam hitungan menit.

“Harapan saya, teknologi ini bisa dikembangkan ke tiap provinsi. Masalah sampah di mana-mana sama: bau,” katanya.

Kesaksian serupa disampaikan Dedi Abdul Rodjak, salah satu pengawas TPST. Ia mengaku awalnya ragu. Namun setelah uji coba, ia menyatakan 70–80 persen bau dan kepekatan air lindi menjadi netral. “Biasanya pekat dan menyengat. Ini tidak,” ujarnya.

Penyemprotan melalui drone, katanya, turut membantu menurunkan intensitas bau di area yang sebelumnya menyengat saat baru masuk lokasi. Tak kalah terkejut, Ahmad Nur, petugas Babinsa di Sumur Batu, Bantar Gebang menyebut perubahan terasa jelas.

“Biasanya bau dan lengket. Ini dicium tidak berbau dan tidak lengket lagi,” katanya singkat.

Meski demikian, upaya penyebaran Bio Saka lewat drone tak berjalan mulus. Area TPST Bantar Gebang, yang juga menjadi lokasi pembelajaran, memiliki banyak “jumper” atau hambatan teknis yang mengganggu jalur terbang drone. Angin dan struktur di lapangan membuat sebagian titik sumber bau belum tersentuh sempurna.

Namun bagi para relawan, keterbatasan itu tak mengurangi makna aksi hari itu. Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang kian kompleks dan menjadi perhatian nasional hingga internasional, demonstrasi sederhana—mencium air lindi yang tak lagi menyengat—menjadi simbol harapan akan terobosan baru.

“Semoga ini menjadi salah satu teknologi nasional untuk menangani sampah di Indonesia,” kata Ansar menutup kegiatan.

Di Bantar Gebang, untuk sesaat, bau yang biasanya menguasai udara memberi ruang bagi rasa penasaran, dan secercah optimisme.

By admin

Jurnalist dan videografer peduli alam dan lingkungan spesifik dunia pertanian dan peternakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *