
Segenggam rumput liar yang selama ini dianggap gulma ternyata bisa disulap menjadi ramuan multifungsi bernama biosaka. Inovasi berbasis bahan alami itu menarik perhatian puluhan petani dari berbagai daerah yang mengikuti pelatihan pengolahan limbah organik dan rumput liar di Dusun Karaharjan, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang, Senin (18/5/2026).
Remasan rumput
Pelatihan bertajuk Sosialisasi Penanganan Bau Hewan Ternak Dari Alam Kembali Ke Alam itu mengenalkan biosaka sebagai elisitor alami yang diklaim bermanfaat untuk pertanian, peternakan hingga kesehatan.
Panitia kegiatan, Muji Rokhmat, menjelaskan biosaka dibuat dari remasan berbagai jenis rumput dalam air selama sekitar 20 menit hingga air berubah warna. Meski sederhana, biosaka disebut memiliki banyak manfaat.
“Biosaka basic untuk pertanian, ada biosaka MKP untuk merangsang pertumbuhan tanaman dan buah. Ada juga biosaka glowing untuk kesehatan kulit hingga biosaka perfume urine dan biosaka penghilang bau sampah,” ujar Muji usai kegiatan.
Menurutnya, biosaka N-Level 1 aktivasi 6 menjadi salah satu formula yang kini dikembangkan untuk membantu mengatasi bau limbah ternak dan sampah rumah tangga secara alami.
Tak hanya itu, biosaka juga dipercaya mampu membantu menetralisir residu kimia pada tanaman maupun makanan. Bahkan sejumlah peserta mengaku telah merasakan manfaatnya bagi kesehatan tubuh.
“Harapannya ada gerakan Indonesia bebas bau dan bebas racun kimia dari residu makanan yang kita konsumsi setiap hari,” tegas Muji.
Merangsang tanaman
Muji mengutarakan Biosaka ini bukan pupuk maupun pestisida kimia. Biosaka merupakan elisitor alami yang berfungsi merangsang pertumbuhan sel, memperkuat sistem imun tanaman, dan meningkatkan metabolisme tanaman budidaya. Nama biosaka sendiri berasal dari singkatan Bio (kehidupan) dan Saka (Selamatkan Alam Kembali ke Alam).
Muji mengungkapkan kegiatan yang diinisiasi warga Padukuhan Karaharjan tersebut menggandeng sejumlah komunitas dan pegiat lingkungan, di antaranya Yayasan Ati Bening Borobudur, Pegiat Lingkungan Hidup Lestari Bumi Kabupaten Magelang serta Bank Sampah Darlingsih.
“Peserta datang dari berbagai daerah seperti Semarang, Bantul, Klaten, Yogyakarta hingga sejumlah kecamatan di Kabupaten Magelang,” imbuhnya.
Selain pelatihan biosaka, peserta juga dikenalkan pada budidaya maggot tanpa bau berbasis sampah rumah tangga sebagai solusi pengolahan limbah organik ramah lingkungan.
Salah satu peserta sekaligus penggiat biosaka di Kabupaten Magelang, Ade Sri Kuncoro Kusumaningtyas, mengaku telah beberapa kali mengikuti pelatihan serupa dan merasakan langsung dampaknya terhadap pertanian dan peternakan.
“Tanaman dan ternak jadi lebih sehat, hasil budidayanya juga terasa lebih baik,” ujarnya.
Ade menuturkan penggunaan biosaka bahkan berdampak pada peningkatan hasil panen padi miliknya. Jika sebelumnya panen hanya berkisar 4 hingga 5 ton per hektare, setelah menggunakan biosaka dan pupuk organik berbasis rumput hasil panen meningkat menjadi sekitar 6 hingga 7 ton bersih per hektare.
“Semua dibuat sendiri dari rumput dan bahan alami di sekitar kita. Jadi gulma yang biasanya dibuang justru bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat,” katanya.
Ia juga menyebut biosaka memberi manfaat bagi kesehatan keluarga. Berbagai testimoni terkait penyembuhan luka hingga pemulihan pascaoperasi turut dibagikan dalam pelatihan tersebut.
Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Remasan Rumput Jadi Ramuan Ajaib, Petani di Magelang Belajar Biosaka untuk Pertanian, https://jogja.tribunnews.com/jawa/1214967/remasan-rumput-jadi-ramuan-ajaib-petani-di-magelang-belajar-biosaka-untuk-pertanian.
Penulis: Yuki Pramudya | Editor: Yoseph Hary W